Skip to content

π–—π–Žπ–‹π–†π–Žπ–π–†π–’π–‰π–†.π–ˆπ–”π–’

The Updated Second Brain of Rifai Hamda

Menu
  • Beranda
  • Produk Saya
  • Artikel Terbaru
  • Opini
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Kesehatan
  • Lainnya
Menu

Beranda » Pendidikan » Pendidikan Umum » Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran (Ajaran Tamansiswa)

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran (Ajaran Tamansiswa)

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran (Ajaran Tamansiswa)

Posted on 17 Mei 202529 Agustus 2026 by Rifai Hamda

⏱ Estimated reading time: 4 min read

RIFAIHAMDA.COM – Ki Hajar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat pada 2 Mei 1889, merupakan tokoh pendidikan nasional yang berasal dari keluarga bangsawan Pakualaman, Yogyakarta.

Demi mendekatkan diri dengan rakyat, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara pada usia 39 tahun.

Salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia adalah ketika Ki Hajar Dewantara mendirikan Nationaal Onderwijs Institut Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bersama para sahabatnya di Yogyakarta.

Gerakan ini lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan saat itu, yang hanya bisa diakses oleh kalangan elite. Melalui Tamansiswa, ia membuka peluang pendidikan yang setara bagi semua lapisan masyarakat.

Ajaran Ki Hajar Dewantara pada pendidikan adalah upaya membangun sistem pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang dihormati kodrat dan kebutuhannya.

Berikut beberapa pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran (Ajaran Tamansiswa):

Daftar Isi sembunyikan
1. Sistem Among (Ing-Ing-Tut / Trilogi Pendidikan)
2. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
3. Guru Layaknya Sang Juru Tani
4. Asah-Asih-Asuh
5. Dengan Suci Hati Berhambalah Kita Kepada Sang Anak
6. Tri Pusat atau Tri Sentra
7. Lawan Sastra Ngesti Mulyo
8. Suci Tata Ngesti Tunggal
9. Tri-N
10. Tri-Nga
11. Tri Sakti Jiwa
12. Tetep-Mantep-Antep
13. Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel
14. Neng-Ning-Nung-Nang
15. Tri-Ko
16. Tri-Kon
17. Tri Pantangan

1. Sistem Among (Ing-Ing-Tut / Trilogi Pendidikan)

Melalui sistem Among, yang dikenal dengan semboyan β€œIng ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”, peserta didik diarahkan dengan teladan, motivasi, dan dorongan. Sistem ini juga mencerminkan pendekatan humanis dalam proses belajar mengajar.

2. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

Ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan tidak sekadar menekankan aspek akademik, melainkan juga pembentukan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep pendidikan ini berpijak pada pandangan bahwa mendidik adalah memanusiakan manusia (humanisasi), dengan mempertimbangkan kodrat alam (lingkungan dan potensi alami individu) serta kodrat zaman (perubahan sosial dan budaya).

Baca Juga:  Model Pembelajaran Inovatif Abad 21

3. Guru Layaknya Sang Juru Tani

Ki Hajar Dewantara memandang guru layaknya seorang petani yang merawat tanaman, dengan penuh kasih, kesabaran, dan pemahaman akan pertumbuhan anak.

Guru diharapkan menjalin kolaborasi dengan orang tua dan komunitas sekolah, serta terus mengembangkan kompetensinya berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.

4. Asah-Asih-Asuh

Tiga prinsip dasar dalam mendidik menurut Ki Hajar Dewantara adalah Asah (mendidik), Asih (mengasihi atau mencintai), dan Asuh (mengasuh atau membina).

Dalam hal ini, bukan hanya mengembangkan pengetahuan, namun juga membentuk karakter.

5. Dengan Suci Hati Berhambalah Kita Kepada Sang Anak

Salah satu nilai luhur dalam ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan adalah prinsip Dengan Suci Hati Berhambalah Kita Kepada Sang Anak, yang mengedepankan pelayanan tulus kepada siswa. Anak ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam sistem pembelajaran.

6. Tri Pusat atau Tri Sentra

Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya Tri Pusat Pendidikan, yakni lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga pilar utama pembentukan karakter anak. Guru dituntut menciptakan suasana belajar yang aman dan berpihak kepada siswa.

7. Lawan Sastra Ngesti Mulyo

Konsep Lawan Sastra Ngesti Mulyo mengajarkan bahwa pengetahuan bisa menghapus kebodohan dan membawa kemajuan bagi bangsa.

8. Suci Tata Ngesti Tunggal

β€œSuci Tata Ngesti Tunggal” menekankan bahwa kebersihan hati akan membentuk perilaku yang baik menuju kesempurnaan hidup.

Ini selaras dengan ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan yang menempatkan nilai-nilai batin sebagai dasar pengembangan karakter.

9. Tri-N

Selanjutnya, ajaran Ki Hajar Dewantara pada pendidikan dalam konsep Tri-N:

  • Niteni (mengamati dan memahami),
  • Nirokke (menirukan),
  • Nambahi (mengembangkan lebih lanjut).

Konsep ini menjadi dasar penilaian dalam Kurikulum 2013, yaitu mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Baca Juga:  Setelah Menganalisis Keterkaitan Antara Materi Dalam Keseluruhan Modul Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai, Tuliskan Komitmen Bapak/Ibu Dalam Kaitannya dengan Mata Kuliah Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai Ini.

10. Tri-Nga

Sementara itu, Tri-Nga terdiri dari tiga unsur:

  • Ngerti (mengerti/memahami). Aspek ini berhubungan dengan kognitif
  • Ngrasa (merasakan). Aspek ini berhubungan dengan afektif.
  • Nglakoni (melakukan). Aspek ini berhubungan dengan psikomotor.

Ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan ini mendorong siswa untuk mengembangkan potensi mereka secara utuh, tidak hanya dari sisi teori tapi juga sikap dan praktik nyata.

11. Tri Sakti Jiwa

Tri Sakti Jiwa mengajarkan bahwa pendidikan harus mengembangkan cipta (pikiran), rasa (emosi), dan karsa (kemauan). Ini menjadi fondasi penting dalam ajaran Ki Hajar Dewantara pada pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya.

12. Tetep-Mantep-Antep

Dalam pembentukan karakter, ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan juga memuat nilai-nilai Tetep-Mantep-Antep. Artinya tekun, yakin pada prinsip, dan berani menghadapi tantangan.

13. Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel

Sementara itu, Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel menekankan pentingnya percaya diri, berani, sabar, dan kuat dalam mengejar cita-cita.

14. Neng-Ning-Nung-Nang

β€œNeng-Ning-Nung-Nang” menggambarkan proses ketenangan batin (meneng), kejernihan pikiran (wening), kekuatan jiwa (hanung), hingga akhirnya meraih kemenangan (menang).

Ini selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara pada pendidikan adalah membentuk pribadi yang tenang, bijak, dan mandiri.

15. Tri-Ko

Dalam konteks kerja sama dan pengambilan keputusan, Tri-Ko mengajarkan nilai:

  • Kooperatif (kerja sama, misalkan untuk meringankan pekerjaan/biaya),
  • Konsultatif (musyawarah),
  • Korektif (saling mengingatkan).

16. Tri-Kon

Sedangkan Tri-Kon menekankan bahwa pendidikan harus:

  • Berkesinambungan (kontinyu),
  • Terbuka terhadap berbagai sumber, boleh dari luar (konvergen),
  • Tetap berakar atau berdasarkan pada budaya/kepribadian diri sendiri (konsentris).

17. Tri Pantangan

Sebagai bagian dari ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan, Tri Pantangan melarang penyalahgunaan kekuasaan, keuangan, dan pelanggaran norma moral atau kesusilaan sebagai bentuk penguatan integritas dalam pendidikan.

Akhirnya, ajaran Ki Hajar Dewantara pada pendidikan adalah sistem yang kaya akan filosofi dan relevan sepanjang zaman.

Melalui pemikiran-pemikirannya, beliau telah meletakkan dasar kuat bagi pendidikan nasional Indonesia yang merdeka, humanis, dan berkarakter.

Baca Juga:  Setelah Mempelajari Topik Ini, Apa yang Menjadi Komitmen Bapak/Ibu dalam Menerapkan Pendidikan Nilai dalam Kehidupan Pribadi dan Kegiatan Pembelajaran?

Tidak heran, ajaran Tamansiswa dalam bidang pendidikan terus menjadi inspirasi dalam merancang pembelajaran yang berpihak pada siswa.***

Bagikan Artikel Ini?

Share on WhatsApp Share on Telegram Share on Facebook Share on LinkedIn Share on X (Twitter) Share on Email

Baca Artikel Lainnya?

  • para remaja sedang berinteraksi di media sosial, mengilustrasikan pengamalan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia dalam lingkup literasi digital dalam lanskap digital adalah dengan cara non-diskriminatif dalam berinteraksi di dunia digital
    Pengamalan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dalam Lingkup Literasi Digital dalam Lanskap Digital Adalah ... Simak juga 4 Panduan Praktisnya
  • Apa Peran Fisika Dalam Pengembangan Teknologi Layar Sentuh, Ini 7 Poin Penjelasan dan Kesimpulannya
    Apa Peran Fisika Dalam Pengembangan Teknologi Layar Sentuh, Ini 7 Poin Penjelasan dan Kesimpulannya
  • Pendidikan Vokasi Diarahkan Terutama untuk 5 Tujuan Penting dalam Menyiapkan Lulusan Siap Kerja
    Pendidikan Vokasi Diarahkan Terutama untuk 5 Tujuan Penting dalam Menyiapkan Lulusan Siap Kerja
  • Mengapa Islam Memberikan Perhatian yang Besar terhadap Kelestarian Alam dan Lingkungan? 7 Alasan Penting yang Wajib Dipahami
    Mengapa Islam Memberikan Perhatian yang Besar terhadap Kelestarian Alam dan Lingkungan? 7 Hal Penting yang Wajib Dipahami
  • Berikut Ini Termasuk Dalam Situs MOOC, 7 Platform Pembelajaran Online yang Wajib Diketahui
    Berikut Ini Termasuk Dalam Situs MOOC, 7 Platform Pembelajaran Online yang Wajib Diketahui
  • Revolusi Industri Kedua Ditandai dengan 5 Perubahan yang Mengubah Dunia Modern
    Revolusi Industri Kedua Ditandai dengan 5 Perubahan yang Mengubah Dunia Modern
  • Revolusi Industri Berdampak pada Imperialisme Modern yang Bertujuan Untuk Apa? Pelajari 3 Hal Yaitu Hubungan Industri, Kolonialisme, dan Perebutan Pasar Dunia
    Revolusi Industri Berdampak pada Imperialisme Modern yang Bertujuan Untuk Apa? Pelajari 3 Hal Yaitu Hubungan Industri, Kolonialisme, dan Perebutan Pasar Dunia
  • Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah
    Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah

Artikel Terpopuler

  • About Me (Tentang Saya)
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Disclaimer (Sanggahan)
  • Contact Me (Hubungi Saya)
Β© 2026 π–—π–Žπ–‹π–†π–Žπ–π–†π–’π–‰π–†.π–ˆπ–”π–’